PENJAMU POLTEKKES KEMENKES ACEH GELAR WORKSHOP AMI

Mutu

Pusat Penjaminan Mutu Poltekkes Kemenkes Aceh menyelenggarakan workshop yang bertajuk audit mutu internal dalam rangka persiapan penyelenggaraan pekan AMI program studi dibawa naungan Poltekkes Kemenkes Aceh sekaligus menjadi acuan persiapan akreditasi sejumlah prodi dalam waktu dekat. Panitia persiapan jauh-jauh hari telah mengundang koordinator-koordinator mutu mewakili 21 Prodi untuk dilatih menjadi auditor yang akan bertanggung jawab untuk melakukan asessmen dokumen dan wawancara. Selain itu panitia juga mempersiapkan dokumen-dokumen mutu yang akan di jadikan bahan untuk menyusun daftar tilik (Checklist), formulir laporan AMI, dan lembar permintaan tindakan korektif (PTK) diantaranya dokumen standar mutu, program kerja tahunan, dan laporan pencapaian program kerja Poltekkes Kemenkes Aceh.  Acara ini menghadirkan narasumber profesional yang sering ber wara wiri pada event workshop SPMI Nasional, yakni ibu Seri Hesti, S.I.Kom, M.I.Kom dari Jakarta, yang bersedia datang langsung ke provinsi Aceh walaupun dalam masa pandemi Covid -19 masih tinggi, tentunya dengan menjaga prokes super ketat.  Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 20 sampai dengan 22 september 2021 ini di hadiri sekitar 40 orang lebih baik yang hadir langsung di aula Poltekkes kemenkes Aceh maupun yang ikut secara daring.

Dalam acara pembukaan yang dibawa oleh MC kenamaan Poltekkes Kemenkes Aceh, Farida Hanum, M.Si, Kepala pusat penjamin mutu Poltekkes Kemenkes Aceh mengungkapkan kegembiraannya karena kegiatan yang sudah lama direncanakan dengan izin Allah SWT baru bulan September 2021 ini terealisasi. Secara umum, workshop Audit Mutu Internal (AMI) adalah bagaimana kita akan mendapatkan ilmu cara mengaudit mutu internal pelaksanaan pendidikan Poltekkes Kemenkes Aceh sehingga mutu institusi betul-betul terjaga atau kita pertahankan yang merupakan penyelenggaraan  Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) itu sendiri dimana secara langsung kita melaksanakan penerapan unsur PEPP, yaitu Perencanaan, perencanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan harus melekat di jiwa kita dan mutu institusi kita, yang sangat berguna pada saat akreditasi prodi-prodi dibawah Poltekkes kemenkes Aceh baik tahun ini maupun tahun-tahun mendatang, ungkap bapak Dwi Sudiarto, SST, M.Kes.

Sementara dalam sambutan hangatnya bapak direktur menceritakan tentang situasi Poltekkes Kemenkes Aceh saat ini yang telah memiliki 21 program studi dan 9 prodi diantaranya berada di kabupaten/kota yang tersebar di provinsi Aceh. Ada prodi yang butuh waktu sampai  5 hari perjalan darat dan harus menginap di tengah perjalanan. Kondisi yang luas ini tidak mudah untuk menjamin infrastruktur dan sarana tersebar secara standar di semua daerah termasuk informasi-informasi yang terkadang tidak mudah sampai ke sasaran, walaupun tidak semua bisa berkunjung ke Banda Aceh, harapannya peserta yang telah menyempatkan diri datang jauh-jauh  dari kabupaten/kota tetap semangat menimba ilmu dan informasi dalam acara workshop ini. Bapak direktur juga menjelaskan tentang fenomena yang terjadi saat ini, koordinator-koordinator untuk menjaga mutu institusi ini sangat kurang diminati malah sering terabaikan sehingga kita memandang sebelah mata terhadap aspek bagaimana menjaga mutu internal. Menjaga mutu ini bukan pekerjaan yang mudah karena ada standar-standar yang harus dipenuhi.  Faktor manusia mempengaruhi terabaikannya menjaga mutu seperti fluktuasi semangat terhadap pekerjaan rutin. Nah, Pada saat akreditasi dimana  jaminan mutu dipandang dari aspek luar oleh lembaga yang dapat dipercaya dan tidak dapat di pengaruhi kita semua menjadi susah memenuhi penilaian akreditasi yang diminta asesor. Hal ini terjadi karena kita tidak menjaga mutu internal. Mudah-mudahan melalui workshop-workshop yang diselenggarakan Pusat Penjamin Mutu (Penjamu) ini, dapat terjadi sharing ilmu dan pengalaman serta adanya contoh-contoh aplikasi yang menjadi bekal untuk dibawa ke prodi masing-masing. Kita sudah menunjuk koordinator SPMI dengan harapan dapat memberikan sebuah keyakinan dari aspek manajemen bahwa Poltekkes Kemenkes sangat serius untuk berharap agar mutu internal dari setiap prodi dapat terjaga dengan baik dan berlangsung dengan baik pula.

Acara workshop AMI ini dibuat dengan 2 pembelajaran yaitu pemaparan materi dan latihan selama 2 hari dan Praktek lapangan selama 1 hari untuk assesment dokumen dan wawancara. Kegiatan dimulai dengan pre-test peserta untuk mengetahui gambaran pengetahuan peserta workshop tentang Audit Mutu Internal yang dipimpin langsung oleh narasumber. Pada hari pertama materi yang dibahas narasumber selama kurang lebih 1 jam adalah tentang penyegaran SPM Dikti dan Sistem Penjaminan Mutu internal, pengantar, perencanaan dan pelaksanaan AMI, dan kode etik auditor. Berawal dari kebijakan Nasional Sistim Penjaminan Mutu perguruan tinggi (SPM Dikti) yang harus dijalankan. Sebagai pengawal mutu kita harus paham betul kaitannya dengan dasar hukum penjaminan mutu pendidikan tinggi antara lain : UU No. 12 Tahun 2012, Tentang Pendidikan Tinggi (UU Dikti), Peraturan Pemerintah RI No. 4 Tahun 2014, Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan  Pengelolaan Perguruan Tinggi, Permendikbud No. 3 Tahun 2020, SN Dikti, Permendikbud No. 5 Tahun 2020 tentang Akreditasi Prodi dan PT, Per-BAN-PT No. 2 Tahun 2017, Sistem Akreditasi Nasional Dikti dan sebagainya. Narsum memberi bandingan dimana ruang lingkup SPMI (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan) lebih besar dari pada cakupan SPME (Evaluasi, Penetapan, Pemantauan) sehingga beliau mengajak kita agar dapat menegakkan Budaya Mutu dengan membentuk pola pikir, pola sikap dan pola perilaku berdasarkan Standar Dikti. Peraturan yang sangat jelas dan memotivasi pengelola SPMI adalah Bab II pasal 3 ayat 4 permenristekdikti nomor 62 tahun 2016 menyebutkan bahwa luaran penerapan SPMI oleh perguruan tinggi digunakan oleh BAN-PT atau LAM untuk penetapan status dan peringkat terakreditasi program studi. Pada hari kedua pembelajaran dan diskusi dilanjutkan dengan tema pokok pengantar, perencanaan dan Pelaksanaan AMI, tehnik audit dokumen dan penyusunan daftar tilik pada sesi I. Pada sesi ke-II, peserta diajak untuk mengenal dan mampu menyusun daftar tilik berdasarkan dokumen standar SN-Dikti untuk uji coba di Unit pengelola program studi (UPPS), program studi dan Lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM). Disamping itu, peserta juga dibekali tehnik audit lapangan (tehnik wawancara), penyusunan laporan audit dan kode etik auditor.

Pada hari ke-III, peserta melakukan praktek audit lapangan langsung ke institusi pendidikan atau program studi secara berkelompok, dimana setiap tim terdiri dari 2 – 3 auditor. Sesuai rencana ada 15 tim yang turun ke lahan audit untuk asessment 9 Prodi, yakni 5 prodi setingkat diploma IV dan 4 Prodi setingkat diploma III  serta 4 unit UPPS di bawah direktorat. Para calon auditor tampak sangat antusias melakukan asessment dokumen dan wawancara auditee. Dalam kegiatan ini calon auditor terlatih dituntut mengecek kelengkapan dokumen reference (rujukan) dan rekaman pelaksanaan isi standar serta temuan ketidaksesuaian dari hasil observasi yang selanjutnya dituangkan dalam laporan AMI yang diantaranya terdiri dari identitas, tujuan audit, lingkup dan kriteria audit, jadwal audit, dan temuan audit berupa deskripsi hasil observasi, katagori temuan AMI, akar masalah dan rekomendasi. Diakhir kegiatan pelatihan tim auditor mempresentasikan hasil kerjanya untuk review dan diskusi untuk mendapatkan masukan-masukan. Kegiatan workshop ditutup oleh Kepala pusat penjaminan mutu Poltekkes Kemenkes Aceh dengan pemberian sertifikat kepada narasumber dengan sambutan aplause yang meriah. Terimakasih kita ucapkan kepada tim penjaminan mutu. (isn)

Galeri Kegiatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *